Search This Blog

10 April 2011

ORANG-ORANG MU’MIN MELIHAT TUHAN DAN ALLAH BERFIRMAN KEPADA PENGUNI SORGA

Dari Syuhaib ra. dari Nabi saw, beliau bersabda : “Ketika penghuni sorga masuk ke syurga”, beliau bersabda : “Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman : “Kamu menghendaki agar aku menambahkah sesuatu untukmu ?” Mereka berkata : “Tidakkah Engkau mencemerlangkan wajah kami ? Tidakkah Engkau memasukkan kami ke syurga ? dan menyelamatkan kami dari neraka ?”. Rasulullah saw. bersabda : “Maka dibukalah tirai dan tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka sukai dari pada melihat Tuhan mereka”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Ketika penghuni syurga dalam keni’matannya tiba-tiba memancar cahaya kepada mereka, maka mereka mengangkat kepala, tiba-tiba Tuhan telah muncul di hadapan mereka dari atas, lalu berfirman : “Selamat sejahtera wahai penghuni sorga”, Rasulullahlah saw. bersabda: “Itulah firman Allah :
“SALAAMUN QAULAM MIRRABBIRRAHIIM” (Kepada mereka dikatakan) : “Salam”, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang. (Yaasiin : 58).
Rasulullah saw. bersabda : “Maka Tuhan melihat mereka dan mereka melihat Nya ; dan mereka tidak menghiraukan keni’matan keni’matan lain, selama mereka melihat Nya, sehingga Tuhan tertutup dari mereka dan tetaplah cahaya dan keberkahan Nya pada mereka di tempat-tempat mereka itu. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah)
KUMPULAN HADITS QUDSI

09 April 2011

NERAKA MENGADU KEPADA TUHANNYA

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Neraka mengadu kepada Tuhan, lalu berkata : “Tuhan, sebahagianku makan sebahagian yang lain”. Maka Tuhan mengizinkan bagi neraka dua nafas yaitu : Nafas pada musim dingin dan nafas pada mu sim panas, maka itulah panas yang sangat panas yang kamu dapati, dan itulah dingin yang sangat dingin yang kamu dapati”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
KUMPULAN HADITS QUDSI

08 April 2011

MANUSIA YANG PERTAMA KALI DIADILI PADA HARI QIYAMAT


Dari Abu Hurairah ra., diceritakan : Orang-orang berkelompok-kelompok dari Abu Hurairah, Natil penduduk Syam berkata padanya : “Wahai Tuan, ceritakanlah kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar dari Rasulullah saw. !”. Ia berkata : “Ya, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling pertama diadili pada hari qiyamat adalah seseorang yang mati syahid, ia didatangkan dan ditanyakan ni’mat­-ni’matnya, lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : “Apakah yang kamu amalkan di dunia ? “. Ia menjawab : “Saya berperang sampai mati syahid”. Dia berfirman : “Kamu berdusta, tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan itu telah dikatakan”. Kemudian ia diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sehingga ia dilemparkan kedalam neraka. Seorang yang memperlajari Ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an di­datangkan. Nikmat-nikmatnya, ditanyakan dan ia mengakuinya. Dia berfirman : “Apakah yang kamu kerjakan di dunia ?”. Ia menjawab : “Saya mempelajari Ilmu, mengajarkannya, dan saya membaca Qur’an karena-Mu”. Dia berfirman : “Kamu berdusta, karena kamu mempelajari Ilmu agar dikatakan pandai dan kamu membaca Al Qur’an agar dikatakan sebagai qari’, dan itu semua telah diucapkan”. Kemudian diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sampai dicampakkan kedalam neraka. Dan seorang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberi berbagai macam seluruh harta didatangkan dan ditanyakan ni’mat-ni’matnya lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : “Apakah yang kamu kerjakan di dunia ?”. Ia menjawab : “Saya tidak meninggalkan jalan yang mana engkau senang untuk di infakkannya (harta) melainkan saya menginfakkannya karena-Mu”. Dia berfirman : “Kamu berdusta, tetapi kamu kerjakan agar dikatakan sebagai dermawan, dan itu telah dikatakan”. Ia diperintahkan, lalu ditarik wajahnya kemudian dilemparkan kedalam neraka”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Abu Said ra., ia berkata : “Rasulullah saw bersabda : “Seseorang diantaramu janganlah menghina dirinya”. Mereka berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah salah seorang dari pada kami menghinakan dirinya ?”. Beliau bersabda : “Ia melihat urusan Allah yang didalamnya ada tempat untutk berpendapat, ia tidak berpendapat. Besok pada hari Qiyamat Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman kepadanya: “Apakah yang mencegah kamu untuk berpendapat begini dan begitu?”. Ia menjawab : “Karena takut kepada manusia : “Dia berfirman : “Hanya Akulah yang berhak ditakuti”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).

07 April 2011

MEMBENARKAN AKIDAH


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Anak Adam (manusia) menyakiti Aku dengan mencaci maki tahun, dan Akulah tahun. Dan di tangan Akulah segala urusan, Aku balik siang dan malamnya”. (HR. Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah saw. Bersabda : “Allah berfirman : “Bani Adam (manusia) mencaci maki masa, Akulah masa, di tangan Akulah siang dan malam”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw., beliau bersabda : Allah Ta’ala berfirman : “Anak Adam (manusia) men­dustakan Aku dan tidak pantas hal itu padanya. Ia mencaci maki Aku dan tidak pantas hal itu baginya. Adapun pendustaannya kepadaku adalah perkataannya : “Tuhan tidak akan mengembalikan aku sebagaimana ia telah menciptakan aku”, padahal menciptakan pada mula pertamanva tidak mudah atasKu dari pada mengembalikannva. Adapun caciannya kepadaKu adalah perkataannya : “Allah mengambil anak dan Akulah Yang Maha Esa dan tempat meminta. Aku tidak melahirkan, tidak dilahirkan dan tidak ada satupun yang menyamai Aku”. (Hadits ditakhrij oleh Al Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda : Allah vang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Anak Adam mendustakan Aku dan tidak seyogya baginya untuk mendustakan Aku. Anak Adam mencaci maki Aku dan tidak seyogya baginya untuk mencaci maki Aku. Adapun pendustaannya kepadaKu adalah perkataannya : “Sesungguhnya Aku tidak mengembalikannya sebagaimana Aku menciptakannya pada hal akhir penciptaan itu tidaklah lebih sukar atasKu dari pada menciptakan pertama kalinya. Adapun caciannya kepadaKu adalah perkataannya : “Allah mengambil anak, dan Akulah yang Maha Esa dan tempat meminta, Aku tidak dilahirkan, tidak melahirkan dan tidak ada satupun yang menyamai Aku”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i)
Dari Zaid bin Khalid Al Juhanni ra., ia berkata : Rasulullah saw shalat Subuh untuk kami di Hudaibiyah mengiringi langit malam. Ketika Nabi saw. berpaling, beliau menghadap ke arah orang-orang seraya bersabda : “Apakah kalian mengctahui sesuatu yang difirmankan oleh Tuhanmu ?”. Mereka menjawab : “Allah dan RasulNya lebih mengetahui” Dia berfirman : “Dari hambaKu ada vang masuk pagi beriman kepadaKu dan sorenya kafir”. Adapun orang yang berkata : “Kami diberi hujan dengan karunia dan rahmat Allah”. Itulah yang beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata : “Kami diberi hujan karena bintang ini dan ini”., itulah orang yang kafir kepadaKu dan Iman kepada bintang”. (Hadits ditakhrij oleh Al Bukhari).
Dari Zaid bin Khalid Al Juhanni ra., ia berkata : Nabi saw diberi hujan lalu beliau bersabda : Allah berfirman : “Dari hambaKu ada yang kafir kepadaKu dan iman kepadaKu”. (Hadits ditakhrij oleh Al Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Aku tidak memberi kenikmatan kepada hamba Ku kecuali sekelompok dari mereka menjadi kafir dengan mengu­capkan : “Bintang dan karena bintang”. (Hadits di takhrij oleh An Nasa’i).
Dari Zaid bin Khalid Al Juhanni ra., ia berkata : Nabi saw. diberi hujan lalu beliau bersabda : “Tidakkah kalian mendengar apa yang difirmankan Allah tadi malam ?” Dia berfirman : “Aku tidak memberikan keni’matan kepada hambaKu kecuali sekelompok dari mereka menjadi kafir, dengan berkata : “Kami diberi hujan oleh bintang ini dan ini”. Adapun orang yang beriman kepadaKu dan memujiKu atas diturunkannya hujan itu, maka itulah orang yang beriman kepadaKu dan kafir terhadap bintang. Dan barang siapa yang berkata : “Kami diberi hujan oleh bintang ini dan ini, itulah orang yang kafir kepadaKu dan iman kepada bintang”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa’i).
Dari Abu Zur’ah, ia mendengar Abu Hurairah ra. berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat seperti buatanKu, maka hendaklah ia membuat semut kecil, atau membuat biji dan gandum”. (HR. Al Bukhari).
Dari Anas bin Malik ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Sesungguhnya umatmu senantiasa berkata : “Apakah ini, apakah ini ?”, sehingga mereka berkata : Ini adalah Allah, yang menciptakan makhluk. Maka siapakah yang menciptakan Allah?” (Hadits ditakhrij oleh Imam Muslim).
Dari Jundub ra. bahwasanya Rasulullah saw. bercerita bahwa seseorang berkata : “Demi Allah, Allah tidak mengampuni Fulan”. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman : “Siapakah yang bersumpah atas Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan, sesungguhnya Aku telah mengampuni Fulan dan Aku menghapus amal atau seperti apa yang ia ucapkan”. (Hadits ditakhrij oleh Imam Muslim).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Dua orang Bani Israil saling bersaudara (orang lain yang sudah diangkat sebagai saudara). Salah satunya berdosa dan yang lain tekun beribadah. Orang yang tekun beribadah itu melihat orang lain itu selalu berdosa lalu ia berkata kepadanya : “Hentikanlah”. Ia menjawab : “Biarkanlah saya dan Tuhan saya. Apakah kamu diutus sebagai pengawas atasKu?”. Lalu ia menjawab : “Demi Allah, Allah tidak mengampuni kamu, atau Allah tidak memasukkan kamu ke sorga”. Lalu Allah mencabut ruh dua orang itu, dan keduanya berkumpul di hadapan Tuhan semesta alam. Allah berfirman kepada orang yang tekun ini : “Apakah kamu mengetahui tentang Aku ?” Ataukah kamu kuasa terhadap apa yang ada dalam tangan (kekuasaan) Ku ?”. Allah berfirman kepada orang yang berbuat dosa : “Pergilah kamu, masuklah ke sorga dengan rahmat Ku, dan berkata kepada yang lalu : “Bawalah ia ke neraka”.
Abu Hurairah berkata : Demi Dzat yang diriku di tangan (kekuasaan) Nya sungguh ia mengatakan kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya. (Hadits ditakhrij Abu Dawud).
KUMPULAN HADITS QUDSI

06 April 2011

KEUTAMAAN SHALAT DHUHA KEUTAMAAN SHALAWAT DAN SALAM ATAS NABI SAW.


Dari Abu Darda dan Abu Dzarr ra. dari Rasulullah saw. dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : Wahai anak Adam, ruku’lah (Shalatlah) kepadaKu di awal siang dengan empat raka’at maka Aku akan mencukupimu di akhir siang itu”. (hadist ditakhrij olej Tirmidzi)
Dari Na’im bin Hammaz ra., ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Wahai anak Adam, janganlah kamu lemah terhadaKu dari (melakukan) empat rakaat di awal harimu, maka Aku cukupkan kamu di akhir hari itu”. (Hadits ditakhrij oleh Abu Dawud).
Dari Abdullah bin Abu Thalhah dari ayahnya ra., ia berkata : Bawasanya Rasulullah saw. pada suatu hari datang dengan wajah gembira, lalu kami berkata : “Sesungguhnya kami melihat kegembiraan di wajah engkau”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya datanglah Malaikat kepadaku. Ia berkata : “Wahai Muhammad, bukankah menjadikan engkau ridha, bahwasanya tidaklah seseorang membaca shalawat (memohon rahmat) atasmu melainkan Aku melimpahkan rahmat atasnya sepuluh kalinya, dan tidak seorangpun memohon keselamatan atasmu, melainkan Aku mem­berikan keselamatan atasnya sepuluh kalinya”. (Hadits ditakhrij oleh An Nasa;i)

05 April 2011

KECINTAAN ALLAH TA’ALA TERHADAP HAMBANYA DAN PENGARUHNYA KEPADA KECINTAAN MAKHLUK


Dari Abu Hu.airah dari Nabi saw. bersabda : “Apabila Allah mencintai hamba, maka Jibril memanggil :
“Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka Jibril mencintainya. Lalu Jibril memanggil penghuni langit : “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka penghuni langit mencintainya, kemudian di bumi ia menjadi orang yang diterima”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya apabila Allah mencitai seorang hamba, maka dia memanggil Jibril ra., seraya berfirman : “Sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia”. Beliau bersabda : “Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril memanggil (penghuni langit) di langit, lalu berkata : “Sesungguhnya Allah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka penghuni langit mencintainya. Beliau bersabda : “Kemudian di bumi ia diterima”: Apabila Allah membenci hamba, maka Dia memanggil Jibril seraya berfirman : “Sesungguhnya Aku membenci Fulan, maka bencilah ia”. Lalu ia di benci oleh Jibril. Kemudian Jibril memanggil penghuni langit : “Sesungguhnya Allah membenci Fulan, maka bencilah kamu sekalian terhadapnya”. Beliau bersabda : “Kemudian ia di bumi dibenci oleh orang-orang”. (Hadits ditakhrij oleh Imam Muslim).
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Apabila Allah mencintai hamba maka Dia berfirman kepada Jibril : – “Saya mencintai Fulan maka cintailah ia”. Maka Jibril mencintainya. Kemudian ia memanggil terhadap. penghuni langit : “Sesungguhnya Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah ia”. Maka penghuni langit mencitainya. Kemudian di bumi ia diterima. Jika Allah membenci hamba -Malik- berkata : “Saya tidak menduga, hanya saja dalam kebencian itu Dia berfirman seperti itu”. (Hadits ditakhrij oleh Imam Malik).
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : “Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril: “Sesungguhnya Aku mencintai Fulan maka cintailah ia”. Beliau bersabda: “Jibril memanggil di langit, kemudian turunlah kecintaan baginya oleh penduduk bumi. Itulah firman Allah :
“INNALLADZIINA AAMANUU WA ‘AMILUSH SHAALIHAATI SAYAJALULAHUMURRAHMAANU WUDDAA “
(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati mereka) rasa kasih sayang).
Apabila Allah membenci seseorang hamba maka Allah memanggil Jibril : “Sesungguhnya Aku membenci Fulan dan dikumandangkan panggilan di langit; kemudian turunlah kebencian terhadapnya oleh penduduk bumi”. (Hadits ditakhrij oleh Turmudzi).

04 April 2011

KEMURAHAN ALLAH TA’ALA DALAM MELIPAT GANDAKAN PAHALA AMAL SALEH

Dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi saw bersabda dalam apa yang diriwayatkan dari Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar : “Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan”. Kemudian Beliau menjelaskan hal itu : “Barang siapa yang bermaksud kebaikan namun tidak mengamalkannya maka Allah mencatat di sisiNya sebagai kebaikan yang sempurna untuknya. Jika ia bermaksud baik lalu mengamalkannya maka Allah mencatat di sisiNya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat sampai banyak. Barang siapa yang bermaksud buruk namun tidak mengamalkannya maka Allah mencatat di sisi-Nya suatu kebaikan yang sempurna. Jika ia bermaksud buruk lalu mengamalkannya maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : Allah berfirman : “Apabila hamba-Ku berkehendak untuk beramal buruk maka jangan kamu catat sehingga ia mengamalkannya. Jika ia mengamalkannya maka catatlah serupa itu. Jika ia meninggalkannya karena Aku maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika hamba-Ku mau berbuat kebaikan namun tidak mengamalkannya maka tulislah satu kebaikan baginya. Jika mengamalkannya maka catatlah sepuluh kalinya sampai tujuh ratus lipat. Dan dalam sebagian riwayat ada tambahan sampai kelipatan yang banyak” . (Hadits ditkhrij oleh Bukhari) .
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Apabila hambaKu bermaksud pada keburukan maka jangan kamu catat. Jika ia melakukannya maka catatlah satu keburukan. Apabila ia bermaksud pada kebaikan namun tidak melakukannya maka catatlah satu kebaikan. Jika ia mengamalkannya maka catatlah sepuluh lipat”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., beliau bersabda : Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : “Apabila hamba Ku bermaksud pada kebaikan namun tidak mengamalkannya maka Aku catat sebagai satu kebaikan baginya sampai tujuh ratus kali. Apabila ia bermaksud pada keburukan dan tidak mengamalkannya maka Aku tidak mencatatnya. Jika ia melakukannya maka Aku catat satu keburukan”. (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah saw dalam apa yang diriwayatkan dari Tuhannya Yang Maha Mulia dan Maha Besar bersabda: “Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan keburukan”. Kemudian beliau menjelaskan : Barang siapa yang bermaksud pada kebaikan namun tidak mengamalkannya maka Allah mencatat di sisiNya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bermaksud pada keburukan lalu mengamalkannya maka Allah mencatatnya satu keburukan”.
Dalam riwayat yang lain ia menambahkan :
‘AU MAHAAHALLAAHU WALAA YAHLIKU ‘ALALLAAHIILLAHA HAALIKUN”
(atau Allah menghapusnya dan tidak membinasakan Al­lah kecuali orang yang berbuat kebinasaan). (Hadits ditakhrij oleh Muslim).
Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. berkata : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman dan firmanNya itu benar : “Apabila hamba Ku bermaksud pada kebaikan maka catatlah sebagai satu kebaikan. Jika ia melakukannya maka catatlah sepuluh lipat baginya. Apabila ia berrhaksud pada keburukan maka jangan kamu mencatatnya, jika ia melakukannya maka catatlah serupa itu, jika ia meninggalkannya – barangkali Tuhan berfirman : “Tidak melakukannya” maka catatlah baginya satu kebaikan”. Kemudian ia membaca :
‘MAN JAA-A BILHASANATI FALAHU ‘ASYRU AMTSAALIHAA”
(Barang siapa yang membawa satu kebaikan maka baginya sepuluh kalinya). (Hadits ditakhrij oleh At Turmidzi).
Dari Abu Dzar ra. ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman : “Barangsiapa yang membawa kebaikan maka baginya sepuluh kalinya atau Aku tambah. Barangsiapa yang membawa keburukan maka balasan keburukan itu keburukan yang semisal dengannya atau Aku ampuni. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu sejengkal maka Aku mendekatkan Diri kepadanya satu hasta. Dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu satu hasta maka Aku mendekatkan Diri kepadanya satu depa. Barangsiapa yang datang kepadaKu berjalan, maka Aku mendatanginya dengan lari-lari kecil. Barangsiapa yang menemui Aku dengan kesalahan sepenuh bumi maka aku menemuinya dengan ampunan”. (Hadits ditakhrij oleh Ibnu Majah).