Search This Blog

23 February 2011

MANFAAT MEMBACA AL QURAN





Sebagai wahyu yang Allah turunkan kepada nabi-Nya, tentu al-Qur'an memiliki keutamaan dan keistimewaan tersendiri bagi para pembaca dan penggemarnya. Ayat-ayat al-qur'an yang kita baca sehari-sehari tidak lepas dari karunia Allah untuk setiap muslim yang demikian besar. Karena saking istimewanya al-Qur'an ini dari kitab-kitab samawi lainnya, Allah memberikan tempat istimewa bagi para pecintanya.

Oleh karena bagi anda yang ingin memaksimalkan peran al-Qur'an dalam kehidupan, nampaknya harus lebih banyak lagi mengetahui manfaat dan perannya, terutama untuk kehidupan. Di antara manfaat itu adalah:
1. Ayat-ayat al-Qur'an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi dan penyemangat bagi si pembacanya.

2. Ketika membaca al-Qur'an, Allah akan menegur diri kita pada setiap ayat-ayat-Nya.

3. Bacaan al-Qur'an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah.

4. Orang yang membaca al-Qur'an akan senantiasa ingat Allah dan kembali kepada-Nya.

5. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kecukupan dan nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia.

6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia, karena ia telah menjaga ayat-ayat-Nya.

7. Orang yang paham al-Qur'an adalah orang yang memiliki banyak ilmu.

8. Orang yang membaca al-Qur'an bagaikan orang yang sedang menyelami samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya.

9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif.

10. Orang yang membaca al-Qur'an akan selalu berada dalam kegembiraan dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-Nya yang lembut.

11. Orang yang rajin membaca al-Qur'an akan selalu diberikan jalan kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika dirinya 'tersandung dosa dan maksiat.'

12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur'an selalu berada dalam lindungan dan penjagaan Allah.
Ayat-ayat al-Qur'an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir, merenung dan beramal sebanyak-banyaknya.

Dan masih banyak manfaat-manfaat lainnya yang terus update dengan kondisi kehidupan kita...Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu belajar dan meningkatkan diri untuk lebih dekat lagi dengan al-Qur'an...Amiin

wallahu a'lam
Sumber asal-http://www.abatez.co.cc

22 February 2011

10 FAEDAH AL-QUR’AN


KONTRADIKSI DALAM AL-QUR’AN ?!

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ? kalau sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’[4] : 82)
Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa apabila kita merenungi al-Qur’an, niscaya tidak akan kita dapati kontradiksi dalam ayat-ayatnya. Bila sekilas nampaknya ada pertentangan, itu hanyalah karena kurangnya pemahaman kita, maka serahkanlah kepada para ulama Sunnah.
Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah mengatakan dalam nuniyahnya : 2471-2472 :
Dan nash-nash al-Qur’an itu tidak saling bertentangan
Maka bertanayalah kepada ulama zaman
Kalau engkau mendapati padanya kontradiksi
Maka itu adalah dari kurangnya pemahaman.
Para ulama telah menyebutkan beberapa contoh banyak sekali tentang masalah ini. Di antara kitab yang paling bagus dan mencakup seputar masalah ini adalah “Daf’u Iham Idhthirab an Aayi Kitab” (menolak anggapan kontradiksi Dalam Ayat-Ayat Qur’an) karya syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi1.
HADITS TIDAK ADA ASALNYA
Betapa banyak orang membaca al-Qur’an, sedang al-Qur’an melaknatnya.
TIDAK ADA ASALNYA. Demikian ditegaskan oleh Syaikh al-Albani, sebagaimana diceritakan oleh murid beliau –syaikh Ali bin Hasan al-Halabi hafidzhohulloh- katanya : “Sebagian orang menisbatkan ucapan ini sebagai hadits dari NabiShallallohu’alayhi wa sallam. Saya tidak mendapatinya dalam kitab-kitab yang telah saya buka, kemudian saya bertanya kepada syaikhuna al-Albani tentangnya ? beliau menjawab: “Tidak ada asalnya”. Kemudian saya mendapatkan dalamihya’ 1/274 ucapan ini dinisbatkan kepada Anas tanpa menyandarkan kepada siapa yang mengeluarkannya. (Ta’liq Fatawa Syaltut hal.123)
KAPAN BERTAAWUDZ
Banyak para penceramah ketika akan membaca ayat dalam khutbah atau kajian, dia berkata: ”Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, -lalu bertaawudz- a’udzubillahi minas syaithon nirrojiym (bertuliskan arab pada majalahnya-admin), apakah hal ini dibenarkan?!
Al-Hafizh as-Suyuthi menjawab pertanyaan ini : “Menurutku pendapat yang benar dalam masalah ini sesuai dengan dalil, bahwa hendaknya dia membaca ayat tanpa ta’awudh terlebih dahulu, karena inilah yang dicontohkan oleh Nabi, para sahabat dan tabi’in.
Setelah beliau menyebutkan hadits-hadits dan atsar dalam masalah ini, beliau mengatakan: “Hadits dan atsar tentang hal ini banyak sekali, maka pendapat yang benar ialah cukup membawakan ayat tanpa ta’awudh terlebih dahulu, sebagai bentuk ittiba’(mengikuti) tuntunan Sunnah Rosululloh. Adapun perintahisti’adzah dalam firman Alloh :
“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Alloh dari setan yang terkutuk.” ( QS.an-Nahl[16]: 98 )
Maka maksud perintah ini adalah ketika akan membaca al-Qur’an, adapun mengutip ayat dalam berdalil dan berhujjah maka hal itu tidak masuk dalam ayat tersebut. (al-Qozadzah fi Tahqiqi Mahalli Isti’adzah, sebagaimana dalam al-Hawii lil Fatawi 1/296)
HAFALAN AL-QUR’AN
Al-Khothib al-Baghdadi berkata : “Kisah paling lucu tentang hafalan anak kecil adalah ucapan Ibrohim bin Said al-Jauhari: “Saya mendapati anak kecil berusia empat tahun dibawa kepada Kholifah Ma’mun, dia sudah hafal al-Qur’an dan pintar berdebat, hanya saja kalau sudah lapar maka dia menangis!!”. (al-Kifayah fi Ilmi Riwayah hlm.64)
A’masy rohimahulloh apabila menghafal al-Qur’an, beliau disimak oleh beberapa orang dengan membawa mushaf, namun beliau tidak keliru walaupun hanya satu huruf. (Siyar A’lam Nubala’, adz-Dzahabi 6/235)
SERUAN AR-ROHMAN
Sahabat yang mulia Abdulloh bin Mas’ud radhiyallohu’anhu pernah mengatakan: “Apabila engkau mendapati ayat yang didahului dengan (… Ya ayyuhalladzina amanuw (dalam huruf arab pada majalah-admin)) “Wahai orang-orang beriman …”, maka pasanglah telingamu baik-baik, karena isinya adalah kebaikan yang harus engkau lakukan atau kejelekan yang harus engkau hindari.”
Ayat-ayat dalam al-Qur’an yang didahului seruan tersebut cukup banyak, kurang lebih sembilan puluh ayat. Syaikh Abu Bakar al-Jazairi mengumpulkannya dalam sebuah kitab berjudul “Nid’atur Rohman li Ahli Iman” (Seruan ar-Rohman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman”.
Dalam muqoddimahnya, beliau menerangkan bahwa seruan-seruan ini berisi hal-hal penting yang semestinya diketahui oleh seorang muslim agar meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Seruan-seruan ini mencakup permasalahan seputar aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah, hukum dan lain sebagainya.
TAFSIR DENGAN ISYARAT
Penafsiran manusia berputar pada tiga metode :
1. Penafsiran secara lafadz, metode ini biasanya di tempuh oleh orang-orang belakangan.
2. Penafsiran secara makna, metode ini biasanya di tempuh oleh para salaf.
3. Penafsiran secara isyarat dan qiyas, metode ini biasanya ditempuh kaum sufi dan selainnya. Hal ini boleh dengan empat syarat.
a. Tidak bertentangan dengan makna ayat.
b. Makna penafsiran tersebut shohih.
c. Adanya indikasi yang mendukung dalam lafadz tersebut.
d. Adanya keterkaitan antara penafsiran tersebut dan makna ayat.
Apabila syarat-syarat ini terpenuhi, maka penafsiran ini bagus. (at-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, Ibnul Qoyyim al-Jauziyah hlm. 90)
PEMBACAAN AL-QUR’AN SEBELUM ACARA
Dalam acara-acara, biasanya diawali dengan acara pembukaan ayat-ayat suci al-Qur’an, apakah ini disyari’atkan ?!
Syaikh Muhammad bin sholih al-Utsaimin berkata: “Saya tidak mengetahui adanya Sunnah dari Rosululloh Shallallohu’alayhi wa sallam yang mendukung hal ini. Telah dimaklumi bersama bahwa Nabi Shallallohu’alayhi wa sallam sering mengumpulkan para sahabatnya ketika akan perang atau urusan-urusan penting lainnya, namun saya tidak mendapati bahwa beliau memulai perkumpulan tersebut dengan pembacaan al-Qur’an.
Namun, seandainya acara tersebur berkaitan tentang topik tertentu, lalu ada seorang yang membacakan ayat mengenai topik tersebut, maka hal ini boleh. Adapun menjadikan pembacaan kitab suci al-Qur’an sebagai pembukaan cara terus menerus seakan hal itu adalah sesuatu yang disyari’atkan maka ini tidak selayaknya dilakukan”. (Fatawa Nur ‘ala Darb 2/43)
SEKEDAR PENDAPAT SAJA
Suatu saat ada seorang dating kepada Muqotil bin Sulaiman seraya mengatakan: “Ada orang bertanya kepadaku” ‘Apa warna anjing Ashabul Kahfi?’ Dan saya tidak bias menjawabnya!! Akhirnya, Muqotil mengatakan: ‘Kenapa kamu tidak mengatakan saja bahwa warnanya belang. Seandainya kamu jawab begitu, toh tidak akan ada yang membantah dan memprotesmu’” (Tarikh Baghdad 13/165)
Kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa kebanyakan pendapat ahli tafsir tentang perincian-perincian seperti itu hanyalah pendapat semata tanpa hujjah yang akurat. (Lihat al-Aqwal Syadzah fi Tafsir hlm. 67, Syaikhuna Abdurrohman ad-Dahsy).
KUPERSEMBAHKAN AL-FATIHAH
Surat al-Fatihah adalah surat yang memiliki banyak keutamaan. Namun sebagian manusia pada zaman sekarang telah membuat suatu hal baru dalam agama tentang surat ini, mereka menutup doa dengannya dan memulai acara dengan mengatakan “al-Fatihah”!! Maka ini adalah suatu kesalahan, sebab agama itu dibangun diatas dalil dan ittiba’ (mengikuti Nabi)”.
Al-Hafizh as-Sakhawi pernah ditanya tentang kebiasaan manusia usai sholat, mereka membaca al-Fatihah dan menghadiahkannya kepada kaum muslimin yang hidup dan mati, beliau menjawab: “Cara seperti itu tidak ada contohnya, bahkan ini termasuk kebid’ahan dalam agama”. (Al-Ajwibah al-Mardhiyyah2/721)
HORMATILAH AL-QUR’AN
Al-Qur’an adalah Kalamulloh, maka wajib bagi kita untuk menghormati, ada beberapa hal yang perlu diingatkan pada kesempatan ini:
1. Menjadikan Al-Qur’an suara dering tunggu di HP
Sungguh, hal ini termasuk kurang adab terhadap al-Qur’an, karena al-Qur’an tidak diturunkan untuk hal ini. Bagaimana bila hp berdering ditempat yang tidak layak?!
Banyak para ulama yang telah mengingatkan masalah ini, diantaranya adalah syaikh Ibnu Utsaimin sebagaimana dalam Min Fawa’idi Syarah Riyadhus Sholihinhlm. 221, Syaikh Bakr Abu zaid dalam Adabul Hathif, Syaikh Sholih al-Fauzan dalam Muhadhoroh-nya di Jami’ Ibnu Utsaimin 28/Robi’ul Awal 1427 H, dan lain sebagainya2.
2. Menyetel Kaset Murotal saat Walimah/acara
Di satu sisi, kita bersyukur banyak orang tidak lagi mnyetel music dan nyanyian saat walimah/acara, namun apakah menggantinya dengan murottal al-Qur’an adalah solusi yang baik?! Kita harus ingat bahwa saat itu banyak orang tidak mendengarkan lantunan al-Qur’an. Padahal Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-A’rof[7]: 204)
Dengan demikian, maka tidak boleh menyetel murottal pada suatu kaum yang tidak mendengarkannya. Sebagai gantinya, kita bias menyetel kaset yag berisi kata-kata hikmah, nasyid, syair, atau mandhumah kitab, atau diisi dengan acara-acara yang bermanfaat lainnya.3
3. Meletakkan lembaran-lembaran berisi al-Qur’an sembarangan
Kita masih sering menjumpai sebagian saudara-saudara kita tidak hati-hati dalam meletakkan kertas-kertas yang ada ayat al-Qur’annya. Terkadang mereka membiarkannya berserakan, menggunakannya untuk bungkus bumbu atau makanan, alas duduk dan semisalnya, -wal ‘iyadzu billah-, semua ini adalah bentuk kurang adab terhadap al-Qur’an. Jika memang kertas (majalah, buku, catatan dll) tersebut sudah tidak dipakai sebaiknya kita memendamnya ditempat yang suci, atau membakarnya sebagai penjagaan dari segala pelecehan sebagaimana dilakukan oleh khalifah Utsman bin Affan. (Lihat Fatawa Lajnah Daimah 3/138 )
Footnote :
1 Syaikh al-Fadhil Masyhur bin Hasan berkomentar tentangnya: “Kitab ini sangat bagus sekali”. (at-Tahqiqat wa Tanqihat As-Salafiyyat Ala Matan Waraqat hal.391)
2 Sekitar lima bulan yang lalu, saya mendengarkan kabar lewat sebuah stasiun di Saudi Arabia bahwa Mujamma’ Fiqih (lembaga akademi fiqih Islam) dalam sidang mereka yang terakhir membahas beberapa hal, salah satunya adalah masalah ini dan mereka menegaskan tidak bolehnya al-Qur’an dijadikan sebagai nada dering tunggu HP.
3 Demikian faedah dari kedua Syaikh pemulis ; Sami bin Muhammad dan Abdurrohman ad-Dahsy (Keduanya murid Syaikh Ibnu Utsaimin), ketika penulis tanyakan kepada mereka berdua via sms.

(Diambil dari Majalah AL-FURQON Edisi 10, tahun ke-7 1429 H. hlm. 59-61)

21 February 2011

Bacaan al-Qur'an Akan Memberi Syafaat di Hari Akhirat.



Sahabat yang dirahmati Allah,
Kitab suci al-Qur'an yang diwahyukan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w adalah merupakan kitab suci yang sempurna dan lengkap, dan menjadi peduman hidup manusia di dunia. Al-Qur'anul karim perlu dibaca, difahami, diyakini dan dilaksanakan dalam kehidupan.

Al-Imam As-Syahid Hassan Al-Banna pernah berkata, "Pesanku kepadamu wahai saudara-saudara...hendaklah sentiasa menghubungkan diri dengan al-Qur'an pada setiap detik dan masa. Andaikata saudara melakukan sedemikian, nescaya saudara akan merasa betapa agungnya Pencipta yang Maha Tinggi itu. Sebenarnya siapa yang berbuat demikian tidak dapat tidak akan bertambah keimanan terhadap keagungan Pencipta lalu bertambah lagi ketundukannya kepada kekuasaan-Nya...." Al-Qur'an adalah  mukjizat aqaliah iaitu mukjizat yang berfungsi dan mempunyai kelebihan luar biasa hingga ke hari kiamat. Membaca al-Qur'an akan diberi pahala oleh Allah s.w.t. digandakan hingga 10 kali ganda.

Sahabat yang dimuliakan,
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:“Bacalah al- Qur'an kerana ia akan datang pada hari akhirat kelak sebagai pemberi syafaat kepada tuannya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Di dalam sebuah hadis lain Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud:“Pada hari kiamat nanti, di hadapan Allah swt tidak akan ada syafaat yang mempunyai taraf yang lebih tinggi daripada Al-Qur'an, bukan Nabi, bukan malaikat dan sebagainya”.

Melalui hadis di atas kita dapat mengetahui bahawa Al-Qur'an adalah pemberi syafaat yang mana syafaatnya akan diterima oleh Allah s.w.t. Terdapat satu riwayat menyatakan bahawa apabila seseorang itu meninggal dunia dan keluarganya sibuk melakukan upacara pengkebumian, seorang yang kacak akan berdiri di bahagian kepalanya. Apabila mayat itu dikafankan, orang itu akan datang mendiami antara dadanya dan kain kafan itu.

Bila selesai dikebumikan, orang ramai termasuklah ahli-ahli keluarga dan kekasih kita akan pulang ke rumah dan datanglah dua malaikat Munkar dan Nakir cuba untuk memisahkan orang yang kacak itu supaya mereka dapat membuat pertanyaan mengenai iman orang yang meninggal dunia itu tanpa sebarang gangguan.

Tetapi orang yang kacak itu akan berkata:“Dia adalah kawanku. Aku tidak akan meninggalkannya berseorangan walau dalam keadaan apa sekalipun. Jalankanlah tugas kamu tetapi aku tidak akan meninggalkannya sehingga aku membawanya masuk ke Syurga!”

Selepas itu dia berpaling ke arah mayat sahabatnya dan berkata:

“Akulah Al-Quran yang mana engkau telah membacanya kadang kala dengan suara perlahan dan kadang kala dengan suara yang kuat.”

“Janganlah engkau bimbang. Selepas pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan berasa dukacita lagi”

Bila pertanyaan selesai, orang yang kacak itu akan mengadakan untuknya satu hamparan sutera yang penuh dengan kasturi dari malaikat-malaikat dari Syurga.

Alangkah indahnya dan bahagianya sekiranya orang itu adalah kita.Kita tahu tentang tingginya syafaat Al-Quran tetapi dengan mengetahuinya sahaja tanpa berusaha untuk mendekati dan merebut syafaat itu kita adalah orang-orang yang rugi.

Cuba kita renungkan sejenak diri kita sendiri. Ajal dan maut adalah ketentuan Allah s.w.t. Bila ia telah datang kita tidak akan mampu memperlambatkan atau mempercepatkannya walaupun untuk tempoh sesaat.Dan apabila berada di alam kubur siapakah lagi yang akan menemani kita jauh sekali memberi bantuan kecuali amalan-amalan kita sewaktu di dunia. Allah telah menjanjikan Al-Qur'an sebagai pemberi syafaat terulung dan janji Allah itu adalah benar.

Terdapat beberapa kebaikan-kebaikan al-Qur'an iaitu :

Pertama : Al-Qur'an merupakan kalam Allah dan perlembagaan syariatnya yang kekal abadi. Allah telah menurunkannya kepada manusia sebagai panduan dalam mengharungi kehidupan agar dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kedua : Membaca al-Qur'an merupakan satu ibadah yang boleh menghampirkan diri seseorang itu kepada Allah s.w.t.. Pahalanya amat besar iaitu sesiapa yang membaca satu huruf daripada al-Qur'an, ganjarannya satu kebaikan dan sepuluh ganjaran yang sama dengannya. Selain itu ia juga boleh memberikan syafaat di hari akhirat kelak.

Ketiga : Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim ada menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang maksudnya :” Perumpamaan Mukmin yang membaca al-Qur'an adalah seperti limau yang mempunyai bau yang harum dan rasanya sedap. Manakala perumpamaan Mukmin yang tidak membaca al-Qur'an pula adalah seperti tamar yang tidak ada bau tetapi rasanya manis dan sedap.”

Keempat : Membaca al-Qur'an hendaklah dilakukan dengan beradab sebagai menghormati kalimah Allah di antaranya ialah seseorang itu hendaklah berada dalam keadaan suci (berwudhu’) dan membacanya di tempat yang bersih, memulakan dengan membaca Ta’auwuz dan Basmallah, membaca dengan teliti dan perlahan, menjaga makhraj (bertajwid) serta memperelokkan suara sekadar termampu.

Kelima : Pembacaan al-Qur'an yang paling baik ialah apabila difahami apa yang dibaca. Dengan ini barulah seseorang itu akan dapat merasai nikmatnya yang sebenar. Jika tak faham bahasa Arab cuba lihat terjemahannya.

Sahabat yang dikasihi,
Surah Al Mulk adalah surah keamanan dan keselamatan, kerana ia menyelamatkan pembaca-pembacanya dari siksa kubur. Sejarah telah membuktikan seperti yang berlaku di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ibnu Abbas menceritakan:

“Pernah suatu ketika setengah para sahabat berkhemah di atas kubur. Mereka sebenarnya tidak menyangka tempat itu adalah kubur. Setelah beberapa ketika berada di dalam khemah, mereka tiba-tiba terdengar suara orang membaca Surah Al Mulk dari mula hinggalah akhirnya. Suara itu datangnya dari dalam tanah. Tahulah mereka, sebenarnya mereka sedang berkhemah di atas kubur. Kemudian hal itu diadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu baginda bersabda yang bermaksud: “Surah Al Mulk adalah surah pelepasan kerana ia menghindar pembacanya dari azab Neraka.”

Abu Hurairah meriwayatkan hadis, katanya yang bermaksud: “Sesungguhnya di dalam Al-Quran itu, ada satu surah yang mengandungi 30 ayat, ia mensyafaat bagi lelaki yang membacanya. Maka selagi mana lelaki itu membacanya, selagi itu pula ia meminta ampun unutuknya. Surah itu ialah surah Al Mulk.”

Dalam hadis yang lain Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Surah Al Mulk itu memelihara dan menghindarkan pembacanya dari azab kubur.”

Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Aku sungguh gembira, sekiranya orang mukmin sentiasa membaca surah Al Mulk sehingga seolah-olah surah itu tertulis di dalam hatinya.”

Sahabat,
Marilah sama-sama kita hayati al-Qur'an dan teruskan menjadi teman setia kita, jangan lupa membacanya bersungguh-sungguh dan fahami maknanya. Semoga ia akan membantu kita di alam barzakh dan hari akhirat.

20 February 2011

Sumpah dalam Al-Qur'an

Kata al-aqsam jamak dari kata qasam. Berarti sumpah. Ungkapan sumpah dalam bahan Arab berasal dari kata kerja, uqsimu kemudian disertai huruf ba’. Jadi uqsimu billah artinya aku bersumpah atas nama Allah. Seperti firman Allah SWT (yang artinya), "Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: 'Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati'." (An-Nahl: 38).

Berhubung sumpah itu banyak digunakan orang, kata kerja sumpah dihilangkan sehingga yang dipakai hanya huruf ba’nya saja. Kemudian huruf ba’ diganti dengan huruf wawu, seperti firman Allah, "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)." (Al-Lail: 1). Kadang-kadang digunakan huruf-huruf ta’. Firman Allah, "Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu." (Al-Anbiya': 57). Tapi, huruf wawu paling banyak dipakai.

Urgensi Sumpah

Sumpah bagi manusia bertujuan untuk mengikat diri untuk tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu. Tapi, sumpah bagi Allah adalah untuk menekankan berita sesudahnya dan menguatkan kandungan ungkapan yang dimaksud. Sebab, menurut Abul Qasim al-Qusyairi bahwa suatu hukum akan menjadi lebih kuat kalau disertai saksi atau sumpah. Sumpah merupakan penekanan yang terkenal untuk memantapkan jiwa dan menguatkannya. Al-Qur'an turun kepada seluruh manusia. Mereka menyikapinya bermacam-macam, di antaranya ada yang ragu, ada yang ingkar, dan ada pula yang menentang habis-habisan. Maka, sumpah dalam Al-Qur'an dalam rangka menghilangkan keraguan dan membatalkan syubuhat (kesamaran), menegakkan hujjah (argumen) dan menguatkan berita, serta menekankan hukuman dengan sebaik-baik gambaran, demikian pendapat Syaikh Manna’ al-Qaththan.

Macam-Macam Sumpah

Sumpah yang dilakukan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an berkisar antara dua hal. Dia bersumpah dengan Diri-Nya yang menunjukkan kebesaran-Nya. Dalam hal ini terdapat tujuh ayat dalam Al-Qur'an.

  1. Pertama: "Orang-orang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: 'Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.' Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."(At-Taghabun: 7).
  2. Kedua: "Katakanlah: 'Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu ...'." (Saba’: 3).
  3. Ketiga: "Dan mereka menanyakan kepadamu: 'Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?' Katakanlah: 'Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)'." (Yunus: 53).
  4. Keempat: "Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan merka bersama syaithan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut." (Maryam: 68).
  5. Kelima: "Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua." (Al-Hijr: 92).
  6. Keenam: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (An-Nisa’: 65).
  7. Ketujuh: "Maka Aku bersumpah dengan Tuhan Yang Mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang; sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa." (Al-Ma’arij: 40).

Dia bersumpah dengan makhluk-Nya. Pada bagian ini cukup banyak dalam Al-Qur'an, seperti, "Demi matahari dan cahayanya di pagi hari (1) dan bulan apabila mengiringinya (2) dan siang apabila menampakkannya (3) dan malam apabila menutupinya (4) dan langit serta pembinaannya (5) dan bumi serta penghamparannya (6) dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)." (Asy-Syams: 1-7).

"Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1), dan siang apabila terang benderang (2), dan penciptaan laki-laki dan perempuan (3)." (Al-Lail: 3-1).

"Demi fajar (1) dan malam yang sepuluh (2) dan yang genap dan yang ganjil (3) dan malam bila berlalu (4)." (Al-Fajr: 1-4).

"Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan (5), dan apabila lautan dipanaskan (6), dan apabila roh-roh dipertemukan dengan tubuh (7), apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya (8), karena dosa apakah dia dibunuh (9), dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia ) dibuka (10), dan apabila langit dilenyapkan (11), dan apabila neraka Jahim dinyalakan (12), dan apabila surga didekatkan (13), maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang dikerjakannya (14), sungguh Aku bersumpah dengan bintang-bintang." (At-Takwir: 5–15).

"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun (1), dan demi bukit Sinai (2)." (At-Tin: 1-2).

Dan, sekali Allah bersumpah dengan Nabi Muhammad saw. karena kedudukan dan kemuliaannya di sisi Allah (HR Ibnu Abbas), yaitu dalam surah Al-Hijr ayat 72. Sementara, sumpah bagi hamba Allah tidak boleh, kecuali dengan menyebut nama Allah, seperti sabda Rasulullah saw. "Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka Dia telah melakukan Syirik." (HR Ahmad).

Dari segi ungkapan, sumpah dalam Al-Qur'an terkadang menggunakan jumlah khabariyah (bersifat berita) dan model ini terbanyak, seperti firman Allah SWT, "Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) ...." (Adz-Dzariyat: 23). Terkadang juga menggunakan jumlah thalabiyah (bersifat permintaan), seperti firman Allah SWT, "Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang mereka kerjakan dahulu." (Al-Hijr: 92-93).

Terkadang sumpah itu menggunakan sesuatu yang ghaib seperti contoh di atas. Terkadang pula menggunakan sesuatu yang nyata seperti sumpah matahari, bulan, malam, siang, langit, bumi, dll. Sumpah itu terkadang disampaikan tanpa jawaban karena agar lebih mantap, seperti firman Allah SWT,"Demi langit yang mempunyai gugusan bintang. Dan hari yang dijanjikan, dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit." (Al-Buruj: 1-4).

Dan, yang paling sering adalah sumpah dengan menyebutkan jawabannya, seperti firman Allah SWT,"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari .... Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya ...." (Asy-Syams: 1-9). Demikian juga firman Allah, "Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun .... Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin:1-4).

Referensi:

  1. Manna al-Qaththan, Mabahits Fii Ulumil Qur’an (Beirut: Ar-Risalah 1420 H/1999 M), Cet. II
  2. Jalaluddin asy-Suyuthi, Al-Itqon fii Ulumil Qur’an, Tahqiq M. Abul Fadhl Ibrahim (Beirut: Al-Maktabah Al-Ashrah, Th. 1408/1998 M), tanpa Cetakan, Juz 4
  3. Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa (Riyadh; Daar Alamul Kutub, Th.1412 H/1991 M), tanpa Cet, Juz 3
Sumpah dalam Al-Qur'an